
Bersepeda, mereka lalui jalan Jakarta ... dari tempat tingalnya di sekitar Cipinang menuju lokasi mencari paku ... hingga ke daerah Cideng, Mangga Besar, Kota dan lainnya ...

berbekal peralatan magnet, pengki, ember yang dilubangi, sekop/cangkul kecil, kantong penampung ... dan sepatu agar tak kena benda tajam dikali yang kelam ... mereka mengais-ngais paku, besi, atau logam lainnya hingga logam mulia, satu kilogram besi bisa dijual seribu.

Sabtu pagi, 12 Mei mereka memilih lokasi kali disekitar komplek pertamina pulo gadung, tepi Jl. Pemuda Jakarta Timur, bertiga, berkubang di air buangan warga Jakarta ... disekitar sampah berserak ... memilah besi dan rongsokan, pagi itu
diantara mereka dapatkan cincin emas.

Seminggu setelah peristiwa banjir besar di Jakarta mereka peroleh logam mulia hingga perolehan uang hasil penjualannya berjumlah hampir satu setengah juta rupiah ... fuiii betapa kerasnya hidup di Jakarta, mereka cari uang di hitamya kali Jakarta dari logam yang mengalir dengan nominal seribu rupiah per kilogram ... dimana anda mencari nafkah?
Labels: Memotret
6 Comments:
Iya nih.....
Seribu sekilo, 10 kilo baru 10 ribu, kalo mau seratus ribu, susah nih....
Ya Raf ... betapa berat hidup di Jakarta ya, thx 4 comment
jangan dianggap remeh ....mungkin dijakarta mereka susah tapi dikampungnya wah rumahnya aja lebih besar dari rumah guru honorer dijakarta....Mantep broooo jepretannya..wah paparaziii
ya om ... mungkin mereka lebih hebring dr kita ya ... maaf mungkin agak berlebihan ... aku hanyalah manusia biasa ... ha ha ha
perjuangan hidup pak? demi keluarga.....bersyukur barangkali itu yang pantas kita lakukan.....
YUP ... U right ... GBU
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home